Monday, June 17, 2013

TRANSKRIPSI

Posted by Unknown at 7:23 AM 0 comments

 
A.   PENGERTIAN TRANSKRIPSI
Transkripsi (dari bahasa Inggris: transcription) adalah proses penyalinan kode-kode genetika yang ada pada urutan DNA menjadi molekul RNA. Transkripsi adalah bagian dari rangkaian ekspresi genetik yang nantinya akan muncul sebagai fenotipe. Urutan nukleotida pada salah satu untaian molekul DNA digunakan sebagai cetakan untuk sintesis molekul RNA yang komplementer. Molekul RNA yang disintesis dalam proses transkripsi pada garis besarnya dapat dibedakan menjadi 3 kelompok molekul RNA, yaitu : mRNA (messenger RNA), tRNA(transfer RNA), dan rRNA (ribosomal RNA).


B.   PRINSIP DASAR TRANSKRIPSI
Salah satu fungsi DNA sebagai materi genetik adalah fungsi fenotipik. Artinya, DNA harus mampu mengatur pertumbuhan dan diferensiasi individu organisme sehingga dihasilkan suatu fenotipe tertentu.  Fungsi ini dilaksanakan melalui ekspresi gen, yang tahap pertamanya adalah proses transkripsi, yaitu perubahan urutan basa molekul DNA menjadi urutan basa molekul RNA. Dengan perkataan lain, transkripsi merupakan proses sintesis RNA menggunakan salah satu untai molekul DNA sebagai cetakan (templat) nya.
Transkripsi mempunyai ciri-ciri kimiawi yang serupa dengan sintesis/ replikasi DNA, yaitu :
1.         Adanya sumber basa nitrogen berupa nukleosida trifosfat. Bedanya dengan sumber basa untuk sintesis DNA hanyalah pada molekul gula pentosanya yang tidak berupa deoksiribosa tetapi ribosa dan tidak adanya basa timin tetapi digantikan oleh urasil. Jadi, keempat nukleosida trifosfat yang diperlukan adalah adenosin trifosfat (ATP), guanosin trifosfat (GTP), sitidin trifosfat (CTP), dan uridin trifosfat (UTP).
2.         Adanya untai molekul DNA sebagai cetakan. Dalam hal ini hanya salah satu di antara kedua untai DNA yang akan berfungsi sebagai cetakan bagi sintesis molekul RNA. Untai DNA ini mempunyai urutan basa yang komplementer dengan urutan basa RNA hasil transkripsinya, dan disebut sebagai pita antisens. Sementara itu, untai DNA pasangannya, yang mempunyai urutan basa sama dengan urutan basa RNA, disebut sebagai pita sens. Meskipun demikian, sebenarnya transkripsi pada umumnya tidak terjadi pada urutan basa di sepanjang salah satu untai DNA. Jadi, bisa saja urutan basa yang ditranskripsi terdapat berselang-seling di antara kedua untai DNA.
3.         Sintesis berlangsung dengan arah 5’→ 3’ seperti halnya arah sintesis DNA.
4.         Gugus 3’- OH pada suatu nukleotida bereaksi dengan gugus 5’- trifosfat pada nukleotida berikutnya menghasilkan ikatan fosofodiester dengan membebaskan dua atom pirofosfat anorganik (PPi). Reaksi ini jelas sama dengan reaksi polimerisasi DNA. Hanya saja enzim yang bekerja bukannya DNA polimerase, melainkan RNA polimerase. Perbedaan yang sangat nyata di antara kedua enzim ini terletak pada kemampuan enzim RNA polimerase untuk melakukan inisiasi sintesis RNA tanpa adanya molekul primer.



C.   TAHAP-TAHAP TRANSKRIPSI
Secara garis besar transkripsi berlangsung dalam empat tahap, yaitu pengenalan promoter, inisiasi, elongasi, dan teminasi. Masing-masing tahap akan dijelaskan secara singkat sebagai berikut :
1.    Pengenalan promoter
Agar molekul DNA dapat digunakan sebagai cetakan dalam sintesis RNA, kedua untainya harus dipisahkan satu sama lain di tempat-tempat terjadinya penambahan basa pada RNA. Selanjutnya, begitu penambahan basa selesai dilakukan, kedua untai DNA segera menyatu kembali. Pemisahan kedua untai DNA pertama kali terjadi di suatu tempat tertentu, yang merupakan tempat pengikatan enzim RNA polimerase di sisi 5’ (upstream) dari urutan basa penyandi (gen) yang akan ditranskripsi. Tempat ini dinamakan promoter.
2.    Inisiasi
Setelah mengalami pengikatan oleh promoter, RNA polimerase akan terikat pada suatu tempat di dekat promoter, yang dinamakan tempat awal polimerisasi atau tapak inisiasi (initiation site). Tempat ini sering dinyatakan sebagai posisi +1 untuk gen yang akan ditranskripsi. Nukleosida trifosfat pertama akan diletakkan di tapak inisiasi dan sintesis RNA pun segera dimulai.
3.    Elongasi
Pengikatan enzim RNA polimerase beserta kofaktor-kofaktornya pada untai DNA cetakan membentuk kompleks transkripsi. Selama sintesis RNA berlangsung kompleks transkripsi akan bergeser di sepanjang molekul DNA cetakan sehingga nukleotida demi nukleotida akan ditambahkan kepada untai RNA yang sedang diperpanjang pada ujung 3’ nya. Jadi, elongasi atau polimerisasi RNA berlangsung dari arah 5’ ke 3’, sementara RNA polimerasenya sendiri bergerak dari arah 3’ ke 5’ di sepanjang untai DNA cetakan.
4.    Terminasi
Berakhirnya polimerisasi RNA ditandai oleh disosiasi kompleks transkripsi atau terlepasnya enzim RNA polimerase beserta kofaktor-kofaktornya dari untai DNA cetakan. Begitu pula halnya dengan molekul RNA hasil sintesis. Hal ini terjadi ketika RNA polimerase mencapai urutan basa tertentu yang disebut dengan terminator.
Terminasi transkripsi dapat terjadi oleh dua macam sebab, yaitu terminasi yang hanya bergantung kepada urutan basa cetakan (disebut terminasi diri) dan terminasi yang memerlukan kehadiran suatu protein khusus (protein rho). Di antara keduanya terminasi diri lebih umum dijumpai. Terminasi diri terjadi pada urutan basa palindrom yang diikuti oleh beberapa adenin (A). Urutan palindrom adalah urutan yang sama jika dibaca dari dua arah yang berlawanan. Oleh karena urutan palindom ini biasanya diselingi oleh beberapa basa tertentu, maka molekul RNA yang dihasilkan akan mempunyai ujung terminasi berbentuk batang dan kala (loop).
Inisiasi transkripsi tidak harus menunggu selesainya transkripsi sebelumnya. Hal ini karena begitu RNA polimerase telah melakukan pemanjangan 50 hingga 60 nukleotida, promoter dapat mengikat RNA polimerase yang lain. Pada gen-gen yang ditranskripsi dengan cepat reinisiasi transkripsi dapat terjadi berulang-ulang sehingga gen tersebut akan terselubungi oleh sejumlah molekul RNA dengan tingkat penyelesaian yang berbeda-beda.

D.    MEKANISME TRANSKRIPSI PADA PROKARIOTIK
Transkripsi pada dasarnya adalah proses penyalinan urutan nukleotida yang terdapat pada molekul DNA. Dalam proses transkripsi, hanya salah satu untaian DNA yang disalin menjadi urutan nukleotida RNA (transkip RNA). Urutan nukleotida pada transkrip RNA bersifat komplemeter dengan urutan DNA cetakan (DNA template), tetapi identik dengan urutan nukleotida DNA pada untaian pengkode (coding DNA strand/nontemplate strand). Hal ini dapat digambarkan dengan skema sederhana berikut ini:
5’-ATG GTC CTT TAC TTG TCT GTA TTT -3’ Untaian DNA pengkode
3’-TAC CAG GAA ATG AAC AGA CAT AAA -5’ Untaian DNA cetakan
Transkripsi
5’-AUG GUC CUU UAC UUG UCU GUA UUU -3’ RNA hasil transkripsi
Perlu diingat bahwa pada struktur RNA tidak ada nukleotida T (thymine), karena struktur T digantikan oleh  U (uracil). Nukleotida T dan U mempunyai cincin yang serupa yaitu cincin pirimidin, tetapi pada basa T ada gugus metil (CH3) pada atom C nomor 5, sedangkan pada basa U tidak ada gugus metil.
Secara umum proses transkripsi pada prokariotik berjalan serupa dengan transkripsi pada eukaryot, meskipun ada beberapa rincian proses yang berbeda antara kedua system tersebut. Pada prokariotik, transkripsi dimulai dengan penempelan RNA polimerase holoenzim  pada bagian promoter suatu gen. pada awal penempelan, RNA polimerase masih belum terikat secara kuat dan struktur promoter masih dalam keadaan tertutup (closed promoter complex). Selanjutnya, RNA polimerase akan terikat secara kuat dan ikatan hydrogen molekul DNA pada bagian promoter mulai terbuka (membentuk struktur open promoter complex). Pada prokariotik, RNA polimerase menempel secara langsung pada DNA di daerah promoter tanpa melalui suatu ikatan dengan protein lain. Dalam proses penempelan promoter tersebut, subunit σ berperan dalam menemukan bagian promoter suatu gen sehingga RNA polimerase dapat menempel. Diduga, proses pengenalan suatu promoter oleh RNA polimerase diawali dengan penempelan enzim tersebut secara tidak spesifik pada molekul DNA.
Selanjutnya, RNA polimerase akan mencari bagian DNA yang mempunyai struktur khas suatu promoter. Struktur khas tersebut berupa suatu kelompok ikatan hydrogen anatara kedua untaian DNA pada posisi -35 dan -10. kecepatan suatu polimerase dalam menemukan promoter diperkirakan mencapai 1.000 pasangan basa per detik.
Setelah RNA polimerase menempel pada promoter, subunit σ melepaskan diri dari struktur holoenzim. Pelepasan subunit σ biasanya terjadi setelah terbentuk molekul RNA sepanjang 8-9 nukleotida. RNA polimerase inti yang sudah menempel pada promoter akan tetap terikat kuat pada DNA sehingga tidak lepas. Ikatan ini sangat penting dalam proses transkripsi selesai.
Inisiasi Transkripsi
Tahapan proses inisiasi transkripsi meliputi 4 langkah yaitu:
1.      Pembentukan kompleks promoter tertutup.
2.      Pembentukan kompleks promoter terbuka.
3.      Penggabungan beberapa nukleotida awal (sekiatar 10 nukleotida).
4.      Perubahan konfirmasi RNA polimerase karena subunit σ dilepaskan dari kompleks holoenzim.
Subunit σ tersebut selanjutnya dapat digunakan lagi dalam proses inisiasi transkripsi selanjutnya. Bagian DNA yang terbuka setelah RNA polimerase menempel biasanya terjadi pada daerah sekitar -9 sampai +3 sehingga menjadi struktur untai tunggal. Bagian DNA yang berkaitan dengan RNA polimerase membentuk suatu struktur gelembung transkripsi (transcription bubble) sepanjang kurang lebih 17 pasang basa.
Setelah struktur promoter terbuka secara stabil, maka selanjutnya RNA polimerase melakukan proses inisiasi transkripsi dengan menggunakan urutan DNA cetakan sebagai panduannya. Dalam proses transkripsi, nukleotida RNA digabungkan sehingga membentuk transkrip RNA. Nukleotida pertama yang digabungkan hampir selalu berupa molekul purin. Kajian pada 88 promoter menunjukkan bahwa 51% molekul RNA diawali dengan basa A, 42% diawali dengan G, 5% diawali dengan C, dan 2% diawali dengan U. pada awalnya basa-basa RNA yang digabungkan membentuk ikatan hidrogen dengan basa DNA cetakan, sehingga jika urutan DNA cetakan adalah ATG, maka basa RNA yang digabungkan adalah UAC.
Subunit σ mempunyai peranan dalam menstimulasi inisiasi transkripsi tetapi tidak mempercepat laju pertambahan untaian RNA. Proses inisiasi transkripsi merupakan prose yang menentukan laju transkrpisi. Inisiasi transkripsi dapat dihambat oleh pemberian antibiotic rifampisin, tetapi antibiotic ini tidak menghambat proses pemajangan transkrip. Penelitian yang dilakukan oleh Alfred Heil dan Walter Zilig pada tahun 1970 membuktikan bahwa subunit RNA polimerase yang menentukan kepekaan atau ketahanan terhadap antibiotik rifampisin adalah subunit β.
Setelah proses inisiasi transkripsi terjadi, selanjutnya subunit σ terlepas dari enzim inti dan dapat digunakan oleh enzim inti RNA polimerase yang lain.siklus subunit σ tersebut pertama kali diungkapkan oleh Travers dan Burgess pada tahun 1969. Mereka menunjukan bahwa jika transkripsi berlangsung pada kekuatan ionic yang rendah, maka RNA polimerase inti tidak terlepas dari DNA cetakan pada ujung suatu gen. Hal ini menyebabkan inisiasi transkrisi berhenti. Jika ke dalam  sistem tersebut dimasukkan  RNA polimerase inti yang baru maka, transkripsi kemudian berjalan kembali. Keadaan ini menunjukkan bahwa RNA polimerase inti yang baru tersebut kemudian bergabung dengan subunit σ yang sebelumnya telah dilepaskan dari enzim RNA polimerase inti lainnya.

Proses Pemanjangan Transkrip
Pada bagian gelembung transkripsi, basa-basa molekul RNA membentuk hibrid dengan DNA cetakan sepanjang kurang lebih 12 nukleotida. Hibrid RNA-DNA ini bersifat sementara sebab setelah RNA polimerasenya berjalan, maka hibrid tersebut akan terlepas dan bagian DNA yang terbuka tersebut akhirnya akan menutup lagi. RNA polimerase akan berjalan membaca DNA cetakan untuk melakukan proses pemanjangan (elogation) untaian RNA. Laju pemanjangan maksimum molekul transkrip RNA sekitar anatara 30 samapai 60 nukleotida perdetik, meskipun laju rata-ratanya dapat lebih rendah dari nilai ini.
Secara umum, berdasarkan atas nilai laju semacam ini, suatu gen yang mengkode protein akan disalin menjadi RNA dalam waktu sekitar satu menit. Meskipun demikian, laju pemanjangan transkrip dapat menjadi sangat rendah (sekitar 0,1 nekleotida perdetik) jika RNA polimerase melewati sisi jeda (pause site) yang biasanya mengandung banyak basa GC. Proses pemanjangan transkrip dapat dihambat oleh antibiotic streptoligin. Kepekaan atau ketahanan terhadap streptoligin juga ditentukan oleh subunit β pada RNA polimerase.
Dalam pemanjangan transkrip, nukleotida ditambahkan secara kovalen pada ujung 3’ molekul RNA yang baru terbentuk. Nukleotida RNA yang ditambah tersebut bersifat komplementer dengan nukleotida pada untaian DNA cetakan. Sebagai contoh, jika nukleotida pada DNA cetakan adalah A, maka nukleotida RNA yang ditambahkan adalah U.
Dalam proses pemanjangan transkrip ada dua hipotesis yang diajukan mengenai perubahan topologi DNA. Hipotesis pertama menyatakan bahwa enzim RNA polimerase bergerak melingkari untaian DNA sepanjang perjalananya. Dengan cara demikian maka dapat dihindari terjadinya pelintiran pada stuktur DNA, tetapi untaian RNA hasil transkripnya akan melintir sepanjang untaian DNA. Sebaliknya, hipotesis kedua menyatakan bahwa enzim RNA polimerase bergerak lurus sepanjang untaian DNA sehingga RNA yang terbentuk tidak mengalami pelintiran, tetapi untaian DNA yang ditranskripsi harus mengalami puntiran. Untaian DNA yang ada di depan RNA polymerase akan membuka sedangkan DNA yang berada di belakangnya akan memutir kembali untuk menutup.
Dalam proses pemanjangan transkrip RNA, demikian juga pada proses inisiasi sintesis RNA, terjadi pembentukan ikatan fosfodiester antara nukleotida RNA yang satu dengan nukleotida berikutnya. Pembentukan ikatan fosfodiester tersebut ditentukan oleh keberadaan subunit β pada RNA polimerase. Transkripsi akan berakir pada saat RNA polimerase mencapai ujung gen yang disebut terminator. Pada bakteri E. coli ada dua macam terminator yaitu:
1.      Terminator yang tidak tergantung pada protein rho (rho-dependent terminato).
2.      Terminator yang tergantung pada protein rho(rho-independent terminator).



Pengakhiran Transkripsi yang Tidak Tergantung pada Faktor Rho
Pengakhiran transkripsi yang tidak tergantung pada faktor  rho dilakukan tanpa harus melibatkan suatu protein khusus, melainkan ditentukan oleh adanya suatu urutan nukleotida tertentu pada bagian terminator. Sinyal yang akan mengakhiri transkripsi dengan mekanisme semacam ini ditentukan oleh daerah yang mengandung banyak urutan GC yang dapat membentuk struktur batang dan lengkung (stem-and-loop) pada RNA dengan panjang sekitar 20 basa di sebelah hulu dari ujung 3’ –OH dan diikuti oleh rangkaian 4-8 residu uridin berurutan. Struktur batang lengkung tersebut menyebabkan RNA polimerase berhenti dan merusak bagian 5’ dari hibrid RNA-DNA. Bagian sisa hibrid RNA-DNA tersebut berupa urutan oligo (rU) yang tidak cukup stabil berpasangan dengan dA. Akibatnya ujung 3’ hibrid tersebut akan terlepas sehingga transkripsi berakhir.
Eksperimen yang dilakukan oleh Peggy Farnham dan Terry Platt menunjukkan bahwa pengakhiran transkripsi tanpa melibatkan factor rho mempunyai 2 ciri utama, yaitu:
1.      Adanya rangkaian basa berulang-balik (inverted repeat) yang dapat membentuk lengkungan.
2.      Adanya rangkaian basa T pada untaian DNA bukan cetakan (nontemplate strand) sehingga membentuk pasangan basa yang lemah antara rU-dA yang menahan transkrip RNA pada untaian DNA cetakan. Pada waktu lengkungan RNA terbentuk, maka RNA polimerase  berhenti dan ikatan basa yang lemah menyebabkan RNA yang baru terbentuk akan lepas.

Pengakhiran Transkripsi yang Tergantung pada Faktor Rho
Mekanisme pengakhiran transkripsi semacam ini memerlukan protein ρ (rho). Pengakhiran transkripsi yang memerlukan faktor rho hanya terjadi pada daerah jeda yang terletak pada jarak tertentu dari promoter. Dengan demikian jika ada daerah jeda yang terletak di dekat promoter, maka daerah itu tidak dapat berfungsi sebagai daerah pengakhiran transkripsi. Terminator yang tergantung pada rho terdiri atas suatu urutan berulang-balik yang dapat membentuk lengkungan (loop), tetapi tidak ada rangkaian basa T seperti pada daerah terminator yang tidak melibatkan faktor rho. Faktor rho diduga ikut teriakat pada transkip dan mengikuti pergerakan RNA polimerase sampai akhirnya RNA polimerase  berhenti pada daerah terminator yaitu sesaat setelah menyintesis lengkungan RNA. Selanjutnya, faktor rho menyebabkan destabilitasasi ikatan RNA-DNA sehingga transkrip RNA terlepas dari DNA cetakan.



E.     MEKANISME TRANSKRIPSI PADA EUKARIOTIK
Secara umum mekanisme pada eukariotik serupa dengan yang terjdi pada prokariotik. Proses transkripsi diawali (diinisiasi) oleh proses penempelan faktor-faktor transkripsi dan kompleks enzim RNA polimerase pada daerah promoter. Faktor transkripsi dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
1.      Faktor transkripsi umum.
2.      Faktor transkripsi yang khusus suatu gen. Faktor transkripsi umum mengarahkan polimerase ke promoter.
Penempelan RNA polimerase pada promoter oleh faktor transkripsi umum hanya menghasilkan transkripsi pada dasar (basal level). Pengaturan transkripsi yang lebih spesifik dilakukan oleh faktor transkripsi yang khusus untuk suatu gen. Meskipun demikian, proses penempelan tersebut sangat vital bagi keberlangsungan proses transkripsi. Setelah faktor-faktor transkripsi yang umum dan polimerase menempel pada promoter, selanjutnya akan terjadi pembentukan kompleks promoter terbuka (open promoter complex). Transkripsi dimulai pada titik awal transkripsi (RNA initiation site, RIS) yang terletak beberapa nukleotida sebelum urutan kodon awal ATG.
Pada eukariotik terdapat tiga kelas gen, yaitu gen kelas I, gen kelas II, dan gen kelas III yang masing-masing dikatalisis oleh RNA polimerase dan faktor transkripsi yang berbeda.
F.     PERBEDAAN TRANSKRIPSI PADA PROKARIOTIK DAN EUKARIOTIK

Transkripsi pada prokariotik
1.       Pada prokariotik, gen terdiri atas 3 bagian utama : daerah pengendali (promoter), bagian struktural dan terminator. Promoter merupakan bagian gen yang berperanan dalam mengendalikan proses transkripsi dan terletak pada ujung 5’.
Promoter pada prokariotik juga terdiri atas operator. Bagian Struktural adalah bagian gen yang terletak disebelah hilir (downstream) dari promoter. Bagian inilah yg mengandung urutan DNA spesifik (kode-kode genetik) yang akan ditranskripsi.
Terminator adalah bagian gen yangg terletak disebelah hilir dari bagian struktural yg berperanan dlm pengakhiran (terminasi) proses transkripsi. Fungsi terminator adalah memberikan sinyal pada enzim RNA polimerase agar menghentikan proses transkripsi. Proses terminasi transkripsi pada prokariotik dapat dikelompokkan menjadi 2 kelas, yaitu:
a.    Terminasi yang ditentukan oleh urutan nukleotida tertentu (rho-independent).
b.    Diatur oleh suatu protein (faktor rho) atau disebut rho-dependent.
2.      Gen pada prokariotik diorganisasikan dalam struktur operon. Contoh : operon lac (operon yg mengendalikan kemampuan metabolisme laktosa pada bakteri Escherichia coli). Adanya sistim operon karena satu promotor mengendalikan seluruh gen struktural.
3.      Saat ditranskripsi, operon lac menghasilkan satu mRNA yang membawa kode-kode genetik untuk 3 macam polipeptida yang berbeda : mRNA polisistronik, artinya dalam satu transkrip dapat terkandung lebih dari satu rangkaian kodon (sistron) untuk polipeptida yang berbeda. Dengan demikian, masing-masing polipeptida akan ditranslasi secara independen dari satu untaian mRNA yg sama.
4.      Ciri utama gen struktural pada prokariot adalah mulai dari sekuens inisiasi translasi (ATG) sampai kodon terakhir sebelum titik akhir translasi (kodon STOP yaitu TAA/TAG/TGA) akan diterjemahkan menjadi rangkaian asam amino.
Jadi, jika gen struktural terdiri atas 900 nukleotida maka gen tersebut akan mengkode 300 asam amino karena satu asam amino dikode oleh tiga sekuens nukleotida yang berurutan. Jadi, pada prokariot tidak ada intron (sekuens penyisip) kecuali pada beberapa archaea tertentu.
5.      Pada prokariot, RNA polimerase menempel secara langsung pada DNA di daerah promoter tanpa melalui suatu ikatan dengan protein lain (yang membedakan dengan eukariot).
6.      Pada prokariot, proses transkripsi dan translasi berlangsung hampir secara serentak, artinya sebelum transkripsi selesai dilakukan, translasi sudah dapat dimulai.
7.      Urutan nukleotida RNA hasil sintesis adalah urutan nukleotida komplementer dengan cetakannya. Misal : urutan ATG pada DNA, maka hasil transkripsinya adalah UAC. Molekul DNA yg ditranskripsi adalah untai ganda, namun yang berperanan sebagai cetakan, hanya salah satu untaiannya
8.      Tahapan transkripsi pada prokariot meliputi:
c.    Inisiasi transkripsi (terbentuk gelembung transkripsi).
d.   Pemanjangan.
e.    Terminasi (tergantung faktor rho dan tidak tergantung faktor rho).

Transkripsi pada eukariot
1.      Gen eukariot dibedakan 3 kelas yaitu: Gen kelas I meliputi gen-gen yang mengkode 18SrRNA, 28SrRNA dan 5,8SrRNA (ditranskripsi oleh RNA polimerase I).
Pada gen kelas I terdapat dua macam promoter yaitu promoter antara (spacer promoter) dan promoter utama. Gen kelas II : meliputi semua gen yg mengkode protein dan beberapa RNA berukuran kecil yang terdapat di dalam nukleus (ditranskripsi oleh RNA polimerase II). Promoter gen kelas II terdiri atas 4 elemen yaitu sekuens pemulai (initiator) yang terletak pada daerah inisiasi transkripsi, elemen hilir (downstream) yg terletak disebelah hilir dari titik awal transkripsi, kotak TATA dan suatu elemen hulu (upstream) Gen kelas III : meliputi gen-gen yg mengkode tRNA, 5S rRNA dan beberapa RNA kecil yang ada di dalam nukleus (ditranskripsi oleh RNA polimerase III). Sebagian besar gen kelas III merupakan suatu cluster dan berulang.
2.      Tidak dikenal adanya sistem operon karena satu promotor mengendalikan seluruh gen struktural.
3.      Gen pada eukariotik bersifat monosistronik artinya satu transkrip yang dihasilkan hanya mengkode satu macam produk ekspresi (satu mRNA hanya membawa satu macam rangkaian kodon untuk satu macam polipeptida).
4.      Pada gen struktural eukariotik, keberadaan intron merupakan hal yang sering dijumpai meskipun tidak semua gen eukariotik mengandung intron.
5.      Mekanisme transkripsi pada eukariotik pada dasarnya menyerupai mekanisme pada prokariotik. Proses transkripsi diawali (diinisiasi) oleh proses penempelan faktor-faktor transkripsi dan kompleks enzim RNA polimerase pada daerah promoter. RNA polimerase eukariot tidak menempel secara langsung pada DNA di daerah promoter, melainkan melalui perantaraan protein-protein lain, yang disebut faktor transkripsi (transcription factor = TF). TF dibedakan 2, yaitu : (1) TF umum dan (2) TF yang khusus untuk suatu gen. TF umum dalam mengarahkan RNA polimerase II ke promoter adalah TFIIA, TFIIB, TFIID, TFIIE, TFIIF, TFIIH, TFIIJ.
6.      Pada eukariotik, proses transkripsi dan translasi tidak berlangsung secara serentak. Transkripsi berlangsung di dalam nukleus, sedangkan translasi berlangsung di dalam sitoplasma (ribosom). Dengan demikian, ada jeda waktu antara transkripsi dengan translasi, yang disebut sebagai fase pasca-transkripsi. Pada fase ini, terjadi proses :
a.       Pemotongan dan penyambungan RNA (RNA-splicing)
b.      Poliadenilasi (penambahan gugus poli-A pada ujung 3’mRNA)
c.       Penambahan tudung (cap) pada ujung 5’ mRNA
d.      Penyuntingan mRNA
7.      Gen eukariot mempunyai struktur berselang-seling antara sekuens yang mengkode suatu urutan spesifik (ekson) dan sekuens yang tidak mengkode urutan spesifik (intron).

Thursday, June 13, 2013

FAKTA MENARIK TENTANG MIMPI

Posted by Unknown at 6:37 AM 0 comments

Mimpi merupakan pengalaman bawah sadar yang terhubung antara tubuh, pikiran, dan jiwa saat kondisi rileks atau tidur.


Sejatinya, sepanjang waktu kita bermimpi meski sedang dalam kondisi sadar dan terbangun, namun proses tersebut terjadi di alam bawah sadar, sehingga kadang kita tidak menyadari bahwa kita tengah bermimpi.
Kadang kita mengingat mimpi yang baru saja terjadi. Tapi nggak ingat mimpi yang terjadi saat terbangun dari tidur. Mimpi memang hal yang misterius, yang sulit diterjemahkan.
Mimpi yang terjadi ketika tidur dan prosesnya terjadi di alam bawah sadar membuat 5 menit setelah terbangun dari tidur, maka akan melupakan 50 % dari mimpi dan cerita dalam mimpi. Biasanya, 10 menit setelah bangun, ketika semua emosi dan kesadaran kembali total, maka akan melupakan 90 % dari mimpi yang tadi.
Salah satu cerita menarik tentang melupakan mimpi ini hadir dari seorang penulis puisi, Samuel Taylor Coleridge. Suatu ketika, dia mendapatkan sebuah pengalaman mimpi yang indah. Sesaat setelah Samuel bangun, dia segera menuliskan cerita dalam mimpinya dalam bait-bait puisi di atas selembar kertas.
Saat tulisannya mencapai 54 kata, tiba-tiba datanglah tamu ke rumahnya. Setelah urusan dengan tamu tersebut selesai, Samuel Taylor Coleridge bermaksud menyelesaikan puisinya tadi, tapi dia tidak berhasil mengingat kembali mimpinya. Puisinya itu tidak pernah selesai. Puisi yang tidak pernah terselesaikan itu diberi judul Kubla Khan dan menjadi salah satu puisi paling terkenal di Inggris.

Semua Bermimpi
Penelitian menemukan, sebenarnya semua manusia bermimpi, mulai dari bayi sampai dengan orang tertua di dunia masih mengalami mimpi. Kecuali pada kasus penyakit jiwa parah.
Tapi ada hal menarik tentang mimpi antara antara cewek dan cowok. Penelitian menyebutkan, cowok cenderung bermimpi tentang pria lain, baik itu pria real atau pria imajinatif. Sementara cewek cenderung berimbang dalam memimpikan cowok atau cewek lain.
Penelitian lain juga mengatakan, pada orang yang dibangunkan saat awal mulai bermimpi tapi tetap diperbolehkan tidur 8 jam sehari, setelah 3 hari menjadi kehilangan konsentrasi, gampang marah, halusinasi dan tanda-tanda gangguan emosi serta psikologis lainnya. Kesimpulannya, mimpi berfungsi untuk melepaskan stress, ketegangan dan tekanan saat manusia tengah dalam kondisi sadar.

Pengaruh Mimpi
Istilah ini disebut dream incorporation. Mimpi yang berisikan refleksi dari peristiwa yang saat itu tengah terjadi. Misalkan kita bermimpi merasa haus, kemudian hadirlah sebotol air yang lalu kita minum, tapi tidak lama kemudian kita merasakan kehausan, begitu terus berulang-ulang sampai kita terbangun dan menyadari bahwa kita benar-benar sedang dalam kondisi kehausan. Atau cerita yang lebih gampang dipahami, mimpi kebelet pipis.

Tubuh Lumpuh
Kesempurnaan tubuh manusia dan otak bisa terlihat saat manusia dalam kondisi nggak sadar dan mimpi. Saat manusia tidur dan bermimpi, maka tubuh akan mengalami lumpuh layu temporary atau sementara.
Hal ini terjadi untuk mencegah supaya tubuh kita tidak bergerak-gerak mengikuti alur cerita mimpi kita. Bayangkan saja kalau mimpi dikejar massa, kalau kaki nggak lumpuh, bisa-bisa malah ikut lari ke luar rumah  dan disangka maling beneran sama satpam.
Ada hormon yang dihasilkan tubuh saat kita tidur yang membuat syaraf mengirimkan pesan ke tulang belakang menyebabkan tubuh kita menjadi rileks dan lam-lama lumpuh atau lemas.

Orang Buta Juga Bermimpi
Orang yang mengalami kebutaan sejak lahir, ternyata juga mengalami mimpi. Tapi karena kebutaan sejak lahirnya membuat nggak punya database bentuk  dan wujud dari refleksi gambar, maka orang yang mengalami kebutaan sejak lahir mengalami mimpi-mimpi tentang suara, bunyi, sentuhan dan perasaan atau emosi.
Sementara orang yang mengalami kebutaan setelah tumbuh dewasa, maka mimpinya akan bercampur antara bunyi, sentuhan dan perasaan dengan refleksi gambar-gambar yang sempat direkam lewat matanya sebelum mengalamai kebutaan.

Hanya yang Diketahui
Sering kali kita mengalami mimpi dengan setting lokasi atau kondisi yang asing dengan kita. Kita bermimpi di tempat-tempat asing, dan bertemu dengan orang-orang yang tidak kita kenal.
Tapi penelitian menyebutkan, hal tersebut tidak asal diciptakan otak. Otak hanya merefleksikan semua yang pernah terjadi dang meng-generate ceritanya dengan sumber dari ingatan kita.
Dan yang membuat seolah tidak mengenali tempat dan hal-hal dalam mimpi alam bawah sadar sebagai pusat penyimpanan data ingatan yang digali otak untuk menciptakan kisah mimpi yang unik, aneh dan asing.
Jadi, otak sebagai sutradara nggak pernah kehabisan jalan cerita drama mimpi, karena sepanjang hidup telah melihat jutaan wajah, ratusan ribu tempat dan detail-detail lainnya. Yap, otak tidak akan pernah kehabisan actor dan setting untuk menciptakan film mimpi unik.

Simbol dan Kiasan
Apa yang dialami dalam mimpi sebenarnya adalah cara otak menerjemahkan alam bawah sadar yang merupakan simbolisasai atas peristiwa real yang terjadi saat sadar.
Otak sangat kreatif dalam menggali database memori kita. Kadang, otak menggali informasi ingatan kita begitu dalamnya sampai kadang-kadang kita takjub atas mimpi aneh kita sendiri.
Hal inilah yang membuat banyak orang tertarik akan tafsir mimpi, karena dipercaya otak mimiliki kesamaan dalam mentranslate ingatan dan mewujudkannya menjadi simbol-simbol menarik lewat jalan cerita mimpi kita.

Berwarna?
Penelitian menemukan bahwa 12 % orang normal, dan tidak memiliki penyakit buta warna, ternyata selalu mengalami mimpi hitam putih. Sementara sisanya mengalami mimpi yang bervariasi antara hitam putih dan mimpi berwarna.

Tuesday, May 28, 2013

Tugas Corel Draw

Posted by Unknown at 2:04 AM 0 comments
Poster Global Warming
Klik disini

Monday, May 13, 2013

Tips Make Up Bagi Si “Empat Mata”

Posted by Unknown at 7:39 AM 0 comments

Hari menyebalkan bagi wanita berkacamata sudah berakhir. Kini, si "empat mata", julukan umum bagi Anda yang berkacamata, bisa pula berdandan cantik, tanpa terkesan seperti gadis kutu buku yang membosankan.
Make-up mata minimalis pastinya jauh lebih baik bagi anda yang berkacamata. Riasan mata yang terlalu berlebihan akan terlihat kurang serasi dengan frame kacamata anda dan akan terlihat aneh.
Bagaimana cara bermake-up tentunya tergantung dengan kondisi mata anda. Misalnya, anda memiliki masalah rabun jauh dimana mata akan terlihat kecil dibalik lensa maka memberikan eyeliner pada garis mata atas dan bawah akan membuat mata anda terlihat lebih besar.
Untuk warna kulit putih dan sedang, bisa gunakan eyeliner berwarna mahogany atau abu-abu muda. Sedangkan untuk kulit yang gelap bisa gunakan eyeliner berwarna hitam atau abu-abu tua. Jepit bulu mata anda dan aplikasikan maskara untuk memperindah bulu mata sekaligus membuat mata terlihat lebih terbuka.
Jika mata anda rabun dekat, biasanya mata akan terlihat lebih besar dibalik lensa. Maka cukup gunakan eyeshadow berwarna natural pada kelopak mata dan berikan maskara. Selain itu berikan juga perhatian pada alis mata anda. Bentuk rapi dan untuk mempercantik, beri pensil alis atau yang berbentuk powder dengan warna setingkat lebih terang dari  warna rambut anda.
Berikut ini beberapa hal yang harus diketahui tentang make up mata bagi Anda yang berkacamata:

Warna dasar makeup
Sesuaikan tema warna make up dengan warna bingkai kacamata. Cobalah mencari kesamaan antara warna make up dengan bingkai kacamata. Warna make up cerah sangat cocok dengan kacamata berbingkai abu-abu, perak atau biru, sementara make up yang mengesankan hangat, pas dengan kacamata berbingkai emas atau krem.

Sembunyikan ketidaksempurnaan
Kacamata membantu menyembunyikan lingkar hitam di daerah sekitar mata. Untuk itu, perlu perhatian khusus saat berdandan, dengan menggunakan concealer yang berfungsi 'menghilangkan' lingkar hitam di bawah mata Anda.

Koreksi bentuk alis
Idealnya, alis mata harus selaras dengan bingkai kacamata yang dipakai. Kacamata berbingkai tebal dan kaya warna akan membantu menyeimbangkan alis mata Anda yang tipis.

Hindari maskara
Saat berkacamata, sebaiknya hindari menggunakan maskara. Ketika mata lelah memerah atau terkena debu (iritasi) sehingga berair, maskara (non waterproof) yang dipakai akan mudah luntur, dan membuat kacamata berembun.

Eyeshadow dan kacamata
Eyeshadows bukanlah pakem make up untuk Anda yang berkacamata. Justru jika dipulaskan tidak tepat, eyeshadows bisa mematahkan antara keselarasan bentuk wajah dan bingkai kacamata. Sebaiknya sapukan eyeshadows tipis-tipis (samar) dengan sikat khusus, agar make up terlihat lebih rapi.

Wanita berkacamata minus
Bagi Anda yang berkacamata minus, make up dengan eyeshadows warna cerah membuat mata terlihat lebih tegas. Hal ini karena visualisasi mata membantu mengurangi ukuran lensa.
Eyeshadows warna lembut terlihat bagus untuk diterapkan, sedang gradasi warna eyeshadows membuat bayangan mata secara bertahap. Agar terlihat bagus, buatlah aksen ringan pada bagian tengah kelopak mata atas, karena ini akan menambah volume ke mata Anda.

Wanita berkacamata plus
Jika mata Anda mengalami rabun jauh, sebaiknya untuk riasan mata gunakan eyeshadows warna lembut, matte atau warna konservatif. Ini akan membantu Anda tampil alami dan mengurangi efek pembesaran dari 'pandangan jauh' lensa. Untuk meminimalkan kesan mata terlalu dekat dengan hidung karena pengaruh lensa "plus", maka buatlah sudut atas kelopak mata tidak terlalu tegas.

Pilih frame yang tepat
Penting agar frame harus dipilih sesuai bentuk wajah, gaya rambut serta gaya Anda secara umum. Itulah sebabnya, make up seharusnya tidak terlalu mendominasi kacamata yang Anda kenakan.

Itulah sedikit tips bagi Anda wanita yang berkacamata, semoga bermanfaat...
 

WELCOME TO MY BLOG Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei